SELAMAT DATANG DI BLOG FAMILY SELAMAT DATANG DI BLOG FAMILYWELCOME TO BLOG FAMILY SELAMAT DATANG DI BLOG FAMILY

Selasa, 01 September 2015

100-0-100



Sebagai bentuk transformasi yang dulu pada Tahun 1999 P2KP ( Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan ), pada tahun 2006 berubah menjadi PNPM Mandiri Perkotaan dan Seiring waktu berjalan PNPM berubah menjadi P2KP kembali tetapi artinya berbeda dengan P2KP terdahulu, P2KP ( Program Peningkatan Kualitas Permukiman ) Dalam konteks pembangunan nasional, Pemerintah telah menetapkan pencapaian target 100-0-100 sebagai terjemahan dalam rangka memberikan akses air minum 100%, mengurangi kawasan kumuh hingga 0%, dan menyediakan akses sanitasi layak 100% untuk masyarakat Indonesia pada 2019 atau di akhir RPJMN ke-3 tahun 2015-2019
Dalam konteks “P2KP” yang mengenal proses transformasi dalam pelaksanaan programnya sebagai implementasi dari perubahan sosial, proses transformasi harus “naik kelas” dari masyarakat  yang tadinya berdaya, kemudian mandiri dan menuju madani, tentu hal ini merupakan keniscayaan. Artinya bila masyarakat yang dianggap sudah mandiri yang sudah melalui berbagai macam proses pembelajaran, mulai dari mengembangkan kelembagaan masyarakat, menyusun program masyarakat, telah menjalin kemitraan dengan pihak luar, dll maka selanjutnya masyarakat harus siap melaksanakan program pembangunan yang Artinya bila masyarakat yang dianggap sudah mandiri yang sudah melalui berbagai macam proses pembelajaran, mulai dari mengembangkan kelembagaan masyarakat, menyusun program masyarakat, telah menjalin kemitraan dengan pihak luar, dll maka selanjutnya masyarakat harus siap melaksanakan program pembangunan
Untuk itulah berbagai Pelatihan dan Sosialisasi dilakukan di tingkat kelurahan/ Desa untuk mengenalkan program ini kemasyarakat, salah satunya, Desa Karya Makmur yang pada hari Kamis, 13 Agustus 2015 sudah memulai untuk melaksanakan pelatihan dan sosialisasi terkait kegiatan P2KP, kegiatan ini lebih focus penyusunan data 100 – 0 – 100 yang outputnya adalah profil kawasan permukiman Kumuh


Kegiatan pelatihan penguatan BKM, Aparat Kelurahan/Desa, pelatihan tim perencanaan Partisipatif  dan pelatihan penguatan UPL digunakan sepenuhnya untuk mendukung penyusunan pendataan 100-0-100 dimasing-masing Kelurahan/Desa.
Pelaksanaan Pelatihan dan sosialisasi P2KP juga dihadiri dari pihak Bappeda Provinsi Bapak Agung yang sekaligus memberikan arahan terkait kegiatan pelaksanaan P2KP, dan juga dihadiri dari Tim Satker Provinsi yang dalam kesempatan ini juga di wakilli oleh Bapak Ferdian, serta dari tim KMW OC 2 Babel TA Pelatihan Bapak Avrial dan TA Infrastruktur ( Ibu Lutfa ), Dalam kata sambutannya Bapak Agung berpesan agar pelaksanaan pendataan 100 – 0 – 100 ini benar-benar dilaksanakan secara maksimal oleh masyarakat. Seluruh kegiatan pelatihan dan on the job training wajib difasilitasi oleh Tim Fasilitator yang memiliki kemampuan teknis fasilitasi yang baik yang sudah mengikuti pelatihan penguatan P2Kp
Hal teknis lain yang juga dibahas ialah konsep dan kebijakan P2KP, paparan tentang prakarsa 100-0-100, penyusunan baseline profil kawasan kumuh desa serta mekanisme pembentukan Tim Inti Perencanaan Partisipatif tingkat Desa. peserta dilibatkan dalam diskusi pleno serta praktek langsung tata cara FGD, Wawancara dan Transek guna merumuskan dan mengidentifikasi potensi sumber daya dalam pelaksanakan P2KP di tingkat masyarakat hingga tersusunnya Data profil kawasan kumuh di Desa Karya makmur Kabupaten Bangka.


Sabtu, 21 Maret 2015

Single Parent....

Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.
Begitulah yang kurasakan, karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anakku masih tertidur. Ohhh aku harus menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.
Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.
Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut danâ?¦.. di sanalah sumber â??masalahâ??nya â?¦ sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Ohâ?¦Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
â??Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya . Karena aku takut mieâ??nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku, aku minta maaf,ayah â?¦ â??
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku, tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, kupeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, â??Aku minta maaf, ayahâ??.
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara â??pertunjukan bakatâ?? yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis,aku yakin , jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.
Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : â??Maaf, ayahâ??. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya? Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : â??Surat-surat itu untuk ibuâ?¦..â??. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. â?¦. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: â??Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?â?? Jawaban anakku itu : â??Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligusâ??. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan.
Aku bilang pada anakku, â??Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Aku berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapiâ?¦. aku jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur â??ibu sayangâ??, Aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara â??Pertunjukan Bakatâ?? di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Ibu, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua. Tapi bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingat kamu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul ?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku

Senin, 19 Januari 2015

Father...



Tetes demi tetes air langit membasuh wajahku.
Membasahi tanah yang telah kering.
Bulir itu terpecah saat membentur bumi.
Setiap tetesnya mengandung rindu yang terpendam.
Tak dapat ku cegah segala rasa rindu yang kian mendesak.
Ingin segera kucurahkan atau sekedar ku ucap.

Mataku menerawang pada masa laluku.
Dimana aku dengan tanpa segan melompat pada punggung tegapmu.
Dimana aku dengan lantang meminta mainan atau sekedar merengek minta dibelikan permen lolipop.
Aku tersenyum dalam lamunku.
Masih ku ingat jelas garis tegas rahangmu menjadikan engkau semakin tampan.
Masih pula ku rekam suara tegasmu namun penuh kasih.
Atau tentang kekarnya tanganmu yang dengan mudah mengendongku atau sekedar menaikkan ku pada kursi yang tinggi.

Aku mengingat kembali kecup bibirmu di pipiku.
Terasa hangat hingga hatiku bergetar.
Aku selalu tertawa kala kumis tipis yang terhias diantara hidung dan mulutmu menyentuh pipiku.
Membuat aku geli hingga tertawa.
Aku kembali teringat belai tanganmu di antara helaian rambutku mengantarkan aku pada alam mimpi.